Kamis, 12 Maret 2020

Pelajaran Agung dari Nabi Ibrahim

Kisah-kisah perjalanan tauhid dan ruhani begitu abadi dalam Al-Qur’an, yang dipresentasikan melalui kisah-kisah agung para Nabiyullah as. Kisah teologis, sekaligus kisah esoterik ruhani, yang dialami oleh manusia sepanjang masa, tak habis-habisnya menjenguk ayat-ayat yang diungkapkan dalam kisah Nabi Ibrahim as berikut ini.
Nabi Ibrahim as, mendapat gelar sebagai Bapak Tauhid, karena drama kehidupannya yang luar biasa, baik secara sosial, ekonomi, politik, agama, maupun budaya.  Dari nasab atau kerurunan Nabi Ibrahim as, lahirlah para Nabi-nabi dan para Rasul yang mulia, antara lain karena barokah doa beliau, agar keluarganya menjadi pemimpin yang bertaqwa dan menjadi generasi yang menyejukkan matahati.
Generasi tauhid yang tampil begitu indah di hadapan peradaban bumi, diantaranya menjadi manusia-manusia pilihan Allah Ta’ala, dari para Nabi, para wali, para sufi dan para Ulama Allah Swt, dan orang-orang saleh. Keluarga manusia penuh cahaya.
Dalam sebuah kisah Al-Qur’an perjalanan spiritual Nabi Ibrahim as, digambarkan dengan ayat:
“Dan begitu juga Kami tampakkan pada Ibrahim, kerajaan langit dan bumi, agar dia benar-benar masuk golongan orang-orang yang yaqin.” (Al-An’am 75).
Nabi Ibrahims as, secara sufistik di-mukasyafah-kan rahasia alam Malakut dan Nasut, agar memasuki Alam Jabarut yang dihuni kaum yang maqomnya total Haqqul Yaqin.
Dimulailah pengembaraan ruhani tetang hakikat diri, hakikat alam demi alam ciptaanNya, dan Siapa sebenarnya Dia Al-Haq Azza wa-Jalla Swt. Inilah proses suluk (penempuhan Jalan Ruhani) yang dahsyat dalam rangka meraih Ma’rifatullah.
Maka: “Ketika malam telah gelap, ia melihat bintang-bintang. Ia berkata, “Inilah Tuhanku.”Namun ketika (bintang-bintang) itu sirna, Ibrahim berkata, “Aku tidak suka hal-hal yang sirna.” (Al-An’aam, 76).
Ketika perjalanan awal ia melihat dirinya sebagai pantulan makrokosmos, yang tampak adalah kegelapan. Lalu ia melihat “bintang-bintang ilmu pengetahuan” yang begitu indah dan memuncak dibalik tafakkurnya, sampai-sampai ia merasa telah final ma’rifatnya. Dan ia menyangka, “Inilah Tuhanku….!” Ia merasa berjumpa dengan Tuhan, padahal tak lebih dari bayangan-bayangan dari lapisan CahayaNya saja, yang menjadi hijab Cahaya bagiNya, satu lapis hijab Cahaya, serasa sudah bertemu Tuhannya, ma’rifat padaNya, musyahadah padaNya.
Tiba-tiba cahaya itu tak lebih dari pantulan kegelapan makhluk pula, dan “Aku tidak suka dengan hal yang sirna.”
Inilah yang digambarkan oleh Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam Al-Hikam, “Tak ada hasrat para penempuh (salik) ketika berhenti saat di-mukasyafah-kan (dibukakan rahasiaNya) melainkan akan muncul panggilan lembut dari inti hakikat, ‘Yang kau cari itu masih ada di depanmu. Dan fenomena alam semesta fisik tidak akan tampak, kecuali hakikat-hakikatnya bicara.’ Sesungguhnya kami adalah cobaan, maka janganlah kufur.”
Yang kau cari bukan yang tampak nyata, maupun cahaya yang tersembunyi dibaliknya. Karena yang kau cari itu tak lebih dari cobaan dan ujian dari Allah Swt. Bintang-bintang pengetahuan yang dalam, bukanlah akhir dari tujuan ma’rifah, tetapi tak lebih dari instrument-instrumen yang dibutuhkan untuk menuju Sang Empunya dan Pencipta bintang-bintang pengetahuan.
Banyak manusia yang diperbudak oleh ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, hanya karena menganggap ilmu pengetahuan itu sebagai akhir tujuan. Apalagi jika dalam kisah Ibrahim as, bintang yang tampak secara materi, jika tidak terselematkan melalui hidayahNya, manusia bisa menyembah bintang dan, menyembah ilmu pengetahuan.
Begitu pun para penempuh Thariqah Sufi, disaat Allah Swt membukakan rahasia ilmu pengetahuan, banyak mereka yang terhenti, seakan-akan ia telah menggapai puncak spiritual dengan pengetahuannya, lalu berakhir dengan ketakjuban dan kesombongan intelektual.
Maka, ketika cahaya lebih besar tampak, yang digambarkan dengan memandang bulan, Nabi Ibrahim as, sempat mengklaim, “Inilah Tuhanku!” Seperti dalam ayat: “Kemudian tatkala ia melihat bulan terbit, ia berkata “Inilah Tuhanku, tetapi setelah bulan itu terbenam, ia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah aku tergolong orang-orang yang sesat.” (Al-An’aam, 77).
Disaat para penempuh sedang dibukakan Cahaya yang lebih besar, maka limpahan-limpahan Cahaya Ilahi mulai memancar, dan itulah Cahaya Rembulan Musyahadah, yang tampak mempesona penuh keindahan luar biasa dibalik Rahasia Ilahi. Keindahan yang membuat para penempuh jadi tercengang, dan spontan mengatakan, “Aku sudah sampai padaNya…Aku sudah ma’rifat dan inilah yang aku cari selama ini…”Ia rupanya fana’, tetapi baru fana’ pada Sifat-sifat yang memancarkan limpahan Cahaya di balik “bukan Musyahadah”.
Cahaya rembulan Qalbu, yang jadi pantulan dari Matahari Ma’rifat, terurai dalam bintang-bintang ilmu pengetahuan, belumlah usai perjalanan sang penempuh.
Perjalanan itu ternyata berakhir ketika Rembulan Qalbu harus tenggelam dalam Matahari Ruh dan Rahasia Ruh, dan Nabi Ibrahim as, sangat menyadari bahwa perjalanan ruhani itu sungguh butuh bimbingan hidayahNya. Karena ia gagal memandang makhlukNya dengan dirinya sendiri, namun ia harus memandangnya bersama PandanganNya. Ia harus memandang semua ini bersama Allah Rabbul ‘Izzah.
Lalu terbitlah pancaran cahaya yang luarbiasa, yang muncul dari matahari Ma’rifat. Maka: “Kemudian ketika ia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku! Ini lebih besar”. Maka ketika tenggelam ia berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung pada agamaNya yang benar. Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Al-An’aam: 78-79).
Pancaran cahaya ma’rifat yang lebih besar, dari ruh yang dahsyat, sampai sang penempuh pun (sebagaimana Nabi Ibrahim as) merasa telah bertemu Tuhan.
Inilah yang dikhawatirkan para Sufi, jika para penempuh tidak dibimbing Mursyid, maka ketersingkapan ruhani bisa membuat ia terjebak dalam tipudaya, dan berakhir sebagai Istidroj, bukan sebagai anugerah.
Istidroj yang menimpa orang-orang ‘arifin (yang ma’rifat) adalah ketika ia terpesona oleh cahaya kema’rifatannya, dan lupa kepada Yang Dima’rifati (Allah Swt.). Karena itu Nabiyullah Ibrahim as, segera kembali kepada Sang Pencipta Matahari, Bulan dan Bintang, Sang Pencipta Langit dan Bumi serta seisinya. Karena Dialah yang sesungguhnya dituju. Itulah yang disebut Ma’rifat Dzat, yang berarti juga Fana’ fidz-Dzat hingga sampai Al-Baqa’ yang tiada hingga.

Kamis, 27 Februari 2020

Abu Thalib Al-Makki, Pemandu Amalan Tarekat Para Sufi

Ia sufi  besar, pengarang  kitab Qutubul Qulub fi Mu’ammalatil Mahbub, yang menjadi panduan bertarekat para sufi
Ia dikenal sebagai sufi jenius dalam hal pemikiran yang tertuang dalam beberapa kitab, juga pengarang kitab ilmul Qulub dan Qutubul Qulub fi Mu’ammalatil Mahbub, yang cukup populer dikalangan para sufi maupun pengamat Tasawuf karena sering dirujuk dalam berbagai perbincangan. Dialah Abu Thalib Al-Makki.
Ia lahir di Jabal, sebuah desa tidak jauh dari Baghdad, Irak. Nama lengkapnya Muhammad bin Ali bin Athiyah Abu Thalib Al-Makki Al-Haritsi Al- Maliki. Dua nama di bagian belakang adalah julukannya. Ia mendapat julukan Al-Haritsi, karena memang dari suku Harits. Sedangkan julukan Al-Maliki, sebab ia bermazhab Maliki, sementara julukan Al-Makki, karena ia dibesarkan di Mekah.
Seperti beberapa sufi besar lainnya, tahun kelahiran Abu Thalib juga sulit ditemukan, tapi riwayat hidupnya bisa dilihat dari beberapa catatan dalam berbagai leteratur, meski hanya sedikit, catatan-catatan tersebut bisa mengungkapkan perikehidupannya. Abu Thalib Al-Makki wafat pada tahun 368 H / 966 M di Bahgdad.
Ia memulai pendidikannya dengan belajar ilmu agama dari berbagai ulama, kemudian memperdalam ilmu hadis, terutama ia berguru kepada Syekh Ali bin Ahmad bin Al-Misri (w.364/944 M) dan Syekh Abubakar Muhammad bin Ahmad Al-Jurjani Al-Mufid (w.378H/958 M). belakangan ia belajar ilmu fikih mazhab Maliki. Keluasan wawasannya dalam mazhab Maliki inilah yang membuat ia mendapat julukan tambahan Al-Maliki.
Setelah merasa cukup menimba ilmu di Mekah, ia mengembara untuk memperluas wawasan keilmuannya, hingga akhirnya berlabuh di Basrah, Irak, yang kala itu terkenal sebagai pusat ilmu dan peradaban. Di sini ia berguru ilmu tasawuf kepada Syekh Abul Ahmad bin Muhammad ibnu Ahmad bin Salim Ash-Saghir (w. 360 H/940 M), sufi besar pendiri Tarekat Salimiyah, bersumber dari tasawuf Sahab bin Abdullah At-Tustari, yang sangat terkenal di Baghdad kala itu.

Tujuh Piranti

AllahBelakangan ia melanjutkan pengembaraannya ke Baghdad, Irak. Di sini ia mengalami kesulitan, karena masyarakat tidak menerima tarekat Salimiyah, hanya menerima tarekat Junaidiyah, sehingga ia di larang mengajarkan tasawuf Salimiyah. Meski begitu ia mempunyai kelebihan dalam pemikiran Tasawuf yang terekam dalam beberapa kitabnya.
Sayangnya hanya dua kitab yang tersisa yang dapat dibaca oleh generasi berikutnya: Al-Ilmul Qulub, dan Qtubul Qulub fi Mu’ammalatil Mahbub. Dua kitab ini cukup berbobot dalam hal analisis mengenai amalan sufi berikut argumentasinya, begitu pula jalan yang ditempuh para sufi dalam memantapkan jiwa dan keyakinan hati. Bahkan Imam Ghazali juga menggunakan metode dan sistem Abu Thalib dalam beberapa pemikirannya.
Kitab Qutubul Qulub menjadi panduan standard bagi para sufi. Itu sebabnya banyak ulama yang memberikan syarah atau komentar dan penulisan ulang terhadap kitab ini. Salah satunya ditulis oleh Muhammad bin Khalafuddin Al-Umawi, yang meringkas kitab tersebut untuk memudahkan pembaca, dengan judul Al-Wushul Ila Ghardhil Mathlub min Jawahiril Qtubil Qulub.
Menurut Abu Thalib, tasawuf hanya dapat ditegakkan jika dasar-dasarnya kuat, yaitu jalan yang benar dalam berkehendak dan berilmu. Sementara untuk mencapai dasar-dasar tersebut diperlukan tujuh macam piranti: Pertama, kehendak yang benar dan konsekwen, serta siap dengan segala resiko. Kedua, membina kehidupan bertaqwa dengan menolak keburukan dan kemaksiatan. Ketiga, memiliki pengetahuan mengenai keadaan diri, dan mengetahui kelemahan-kelemahannya.
Keempat, selalu mengikuti forum untuk mengenal dan mengingat Allah SWT. Kelima, memperbanyak tobat Nasuha, memotong jalur dosa dan menggantinya dengan jalur pahala, dengan cara merasakan kelezatan taqwa dan memperkuat kehidupan zuhud. Keenam, makan makanan yang halal dan mengetahui hukum-hukum makanan, pakaian dan sebagainya sebagaimana telah diatur oleh syara’. Ketujuh, selalu dekat dengan teman akrab yang saleh dan mampu memantau kehidupan taqwa sejati.
Abu Thalib menambahkan, ada empat tiang penyanggah yang memperkuat kehidupan para sufi: Pertama, kehidupan yang dibina dalam keadaan lapar, untuk memutuskan jalan darah setan yang bersarang di hati. Dengan lapar hati tidak dipenuhi darah, sehingga menajdi putih dan memancarkan Nur. Selain itu juga jadi lembut, karena lapar adalah kunci pembuka pintu zuhud, dan zuhud adalah pembuka pintu akherat.
Kedua, banyak terjaga di waktu malam untuk beribadah. Ketiga, memperbanyak diam sebagai jalan keselamatan dan kewaspadaan. Kehidupan sufi selalu memperhatikan apa yang keluar dari lisan. Keempat, bersunyi diri untuk berdzikir atau berkhalwat agar lebih berkonsentrasi dalam menjernihkan hati dan menyerap rahmat Allah SWT. Sebab, hati merupakan perbendaharaan Allah SWT yang tersembunyi. Jika iman telah menghunjam dalam hati, yang tinggal adalah cinta akherat. Dan itulah, “Hatinya hati”.
Sumber Kisah dari Alkisah Nomor 13 / 20 Juni-3 Juli 2005

Ma’ruf Al-Kharqi, Sufi yang Bertamu di Arasy

Ia mabuk cinta akan Dzat Ilahi. Konon, Allah mengkuinya sebagai manusia yang mabuk cinta kepada-Nya. Kebesarannya diakui berbagai golongan

Nama sufi ini tidak terlalu populer, meski sama-sama berasal dari Irak, namanya tak sepopuleh Syekh Abdul Qadir Jailani, Manshur Al-Hallaj, atau Junaid Al-Baghdadi. Dialah Ma’ruf Al-Kharqi, salah seorang sufi penggagas paham cinta dalam dunia Tasawuf yang jiwanya selalu diselimuti rasa rindu yang luar biasa kepada sang Khalik. Tak salah jika ia menjadi panutan generasi sufi sesudahnya. Banyak sufi besar seperti Sarry Al-Saqaty, yang terpengaruh gagasan-gagasannya. Ia juga diangap sebagai salah seorang sufi penerus Rabi’ah Al-Adawiyah sang pelopor mazhab Cinta.
Nama lengkapnya Abu Mahfudz Ma’ruf bin Firus Al-Karkhi. Meski lama menetap di Baghdad, Irak, ia sesungguhnya berasal dari Persia, Iran. Hidup  di zaman kejayaan Khalifah Harun Al-Rasyid dinasti Abbasiyah. tak seorangpun menemukan tanggal lahirnya. Perhatikan komentar Sarry As-Saqaty, salah seorang muridnya. “Aku pernah bermimpi melihat Al-Kharqi bertamu di Arasy, waktu itu Allah bertanya kepada Malaikat, siapakah dia? Malaikat menjawab, “Engkau lebih mengetahui wahai Allah,” maka Allah SWT berfirman, dia adalah Ma’ruf Al-Kharqi, yang sedang mabuk cinta kepadaku.”
Menurut Fariduddin Aththar, salah seorang sufi, dalam kitab Tadzkirul Awliya, orang tua Ma’ruf adalah seorang penganut Nasrani. Suatu hari guru sekolahnya berkata, “Tuhan adalah yang ketiga dan yang bertiga,” tapi, Ma’ruf membantah, “Tidak! Tuhan itu Allah, yang Esa.
Mendengar jawaban itu, sang guru memukulnya, tapi Ma’ruf tetap dengan pendiriannya. Ketika dipukuli habis-habisan oleh gurunya, Ma’ruf melarikan diri.
Karena tak seorang pun mengetahui kemana ia pergi, orang tua Ma’ruf berkata, “Asalkan ia mau pulang, agama apapun yang dianutnya akan kami anut pula.” Ternyata Ma’ruf menghadap Ali bin Musa  bin Reza, seorang ulama yang membimbingnya dalam Islam.
Tak beberapa lama, Ma’ruf pun pulang. Ia mengetuk pintu. “Siapakah itu” tanya orang tuanya. “Ma’ruf,” jawabnya. “agama apa yang engkau anut?” tanya orang tuanya. “Agama Muhammad, Rasulullah,” jawab Ma’ruf. Mendengar jawaban itu, orang tuanya pun memeluk Islam.
Cinta  Ilahiah
Salah seorang gurunya yang terkenal adalah Daud A-Tsani, ia membimbing dengan disiplin kesufian yang keras, sehingga mampu menjalankan ajaran agama dengan semangat luar biasa. Ia dipandang sebagai salah seorang yang berjasa dalam meletakkan dasar-dasar ilmu tasawuf dan mengembangkan paham cinta Ilahiah.
Menurut Ma’ruf, rasa cinta kepada Allah SWT tidak dapat timbul melalui belajar, melainkan semata-mata karena karunia Allah SWT. Jika sebelumnya ajaran taawuf bertujuan membebaskan diri dari siksa akhirat, bagi Ma’ruf merupakan sarana untuk memperoleh makrifat (pengenalan) akan Allah SWT. Tak salah jika menurut Sufi Taftazani, adalah Ma’ruf Al-Kharqi yang pertama kali memperkenalkan makrifat dalam ajaran tasawuf, bahkan dialah yang mendifinisikan pengertian tasawuf. Menurutnya, Tasawuf ialah sikap zuhud, tapi tetap berdasarkan Syariat.
Masih menurut Ma’ruf, seorang Sufi adalah tamu Tuhan di dunia. Ia berhak mendapatkan sesuatu yang layak didapatkan oleh seorang tamu, tapi sekali-kali tidak berhak mengemukakan kehendak yang didambakannya. Cinta itu pemberian Tuhan, sementara ajaran sufi berusaha mengetahui yang benar dan menolak yang salah. Maksudnya, seorang sufi berhak menerima pemberian Tuhan, seperti Karomah, namun tidak berhak meminta. Sebab hal itu datang dari Tuhan – yang lazimnya sesuai dengan tingkat ketaqwaan seseorang kepada Allah SWT.
Gambaran tentang Ma’ruf diungkapkan oleh seorang sahabatnya sesama sufi, Muhammad Manshur Al-Thusi, katanya, “Kulihat ada goresan bekas luka di wajahnya. Aku bertanya: kemarin aku bersamamu tapi tidak terlihat olehku bekas luka. Bekas apakah ini?” Ma’ruf pun menjawab, “Jangan hiraukan segala sesuatu yang bukan urusanmu. Tanyakan hal-hal yang berfaedah bagimu.”
Tapi Manshur terus mendesak. “Demi Allah, jelaskan kepadaku,” maka Ma’ruf pun menjawab. “Kemarin malam aku berdoa semoga aku dapat ke Mekah dan bertawaf mengelilingi Ka’bah. Doaku itu terkabul, ketika hendak minum air di sumur Zamzam, aku tergelincir, dan mukaku terbentur sehingga wajahku lukan.”
Pada suatu hari Ma’ruf berjalan bersama-sama muridnya, dan bertemu dengan serombongan anak muda yang sedang menuju ke Sungai Tigris. Disepanjang perjalanan anak muda itu bernyanyi sambil mabuk. Para murid Ma’ruf mendesak agar gurunya berdoa kepada Allah sehingga anak-anak muda mendapat balasan setimpal. Maka Ma’ruf pun menyuruh murid-muridnya menengadahkan tangan lalu ia berdoa, “Ya Allah, sebagaimana engkau telah memberikan kepada mereka kebahagiaan di dunia, berikan pula kepada mereka kebahagiaan di akherat nanti.” Tentu saja murid-muridnya tidak mengerti. “Tunggulah sebentar, kalian akan mengetahui rahasianya,” ujar Ma’ruf.
Beberapa saat kemudian, ketika para pemuda itu melihat ke arah Syekh Ma’ruf, mereka segera memecahkan botol-botol anggur yang sedang mereka minum, dengan gemetar mereka menjatuhkan diri di depan Ma’ruf dan bertobat. Lalu kata Syekh Ma’ruf kepada muridnya, “Kalian saksikan, betapa doa kalian dikabulkan tanpa membenamkan dan mencelakakan seorang pun pun juga.”
Ma’ruf mempunyai seorang paman yang menjadi Gubernur. Suatu hari sang Gubernur melihat Ma’ruf sedang makan Roti, bergantian dengan seekor Anjing. Menyaksikan itu pamannya berseru, “Tidakkah engkau malu makan roti bersama seekor Anjing?” maka sahut sang kemenakan, “Justru karena punya rasa malulah aku memberikan sepotong roti  kepada yang miskin.” Kemudian ia menengadahkan kepala dan memanggil seekor burung, beberapa saat kemudian, seekor burung menukik dan hinggap di tangan Ma’ruf. Lalu katanya kepada sang paman, “Jika seseorang malu kepada Allah SWT, segala sesuatu akan malu pada dirinya.”  Mendengar itu, pamannya terdiam, tak dapat berkata apa-apa.
Suatu hari beberapa orang syiah mendombrak pintu rumah gurunya, Ali bin Musa bin Reza, dan menyerang Ma’ruf hingga tulang rusuknya patah. Ma’ruf tergelatak dengan luka cukup parah, melihat itu, muridnya, Sarry al-Saqati berujar, “Sampaikan wasiatmu yang terakhir,” maka Ma’ruf pun berwasiat. “Apabila aku mati, lepaskanlah pakaianku, dan sedekahkanlah, aku ingin mneinggalkan dunia ini dalam keadaan telanjang seperti ketika dilahirkan dari rahim ibuku.”
Sarri as-Saqathi meriwayatkan kisah: Pada suatu hari perayaan aku melihat ma’ruf tengah memunguti biji-biji kurma.
“Apa yang sedang engkau lakukan?” tanyaku.
Ia menjawab, “Aku melihat seorang anak menangis. Aku bertanya, “Mengapa engkau menangis?” ia menjawab. “Aku adalah seorang anak yatim piatu. Aku tidak memiliki ayah dan ibu. Anak-anak yang lain memdapat baju-baju baru, sedangkan aku tidak. Mereka juga dapat kacang, sedangkan aku tidak,” lalu akupun memunguti biji-biji kurma ini. Aku akan menjualnya, hasilnya akan aku belikan kacang untuk anak itu, agar ia dapat kembali riang dan bermain bersama anak-anak lain.”
“Biarkan aku yang mengurusnya,” kataku.
Akupun membawa anak itu, membelikannya kacang dan pakaian. Ia terlihat sangat gembira. Tiba-tiba aku merasakan seberkas sinar menerangi hatiku. Dan sejak saat itu, akupun berubah.
# # # #
Suatu hari Ma’ruf batal wudu. Ia pun segera bertayammum.
Orang-orang yang melihatnya bertanya, “Itu sungai Tigris, mengapa engkau bertayammum?”
Ma’ruf menjawab, “Aku takut keburu mati sebelum sempat mencapai sungai itu.”
Ketika Ma’ruf wafat, banyak  orang dari berbagai golongan datang bertakziyah, Islam, Nasrani, Yahudi. Dan ketika jenazahnya akan diangkat, para sahabatnya membaca wasiat almarhum: “Jika ada kaum yang dapat mengangkat peti matiku, aku adalah salah seorang diantara mereka.” Kemudian orang Nasrani dan Yahudi maju, namun mereka tak kuasa mengangkatnya. Ketika tiba giliran orang-orang muslim, mereka berhasil, lalu mereka menyalatkan dan menguburkan jenazahnya.
Sumber Kisah: Alkisah Nomor 25 / 6-19 Desember 2004

Al-Hujwiri, Kisah Penyingkap Pintu Makrifat

Namanya tidak asing dalam dunia sufi. Dialah sufi pertama yang mengarang kitab tentang sufisme dalam Bahasa Persia.
Bagi para penganut sufi, pengamat, dan para intelektual, kitab Kasyful Mahjub, sudah tidak asing lagi. Kitab itu disejajarkan dengan kitab-kitab besar kaum sufi lainnya. Seperti Kitab Al-Risalah karya Al-Qusyairi dan Tadzkirul Awliya, karya Fariduddin Aththar. Bahkan kitab Kasyful Mahjub tercatat sebagai kitab sufi yang pertama kali di tulis dalam bahasa Persia. Kitab tersebut berisi berbagai pandangan tentang mistik Islam dan riwayat hidup singkat para sufi, dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia.

Nama lengkapnya adalah Abu Hasan Ali bin Usman bin al-Ghaznawi al-Jullabi al-Hujwiri. Ulama ini lahir di Ghaznah, Persia (Iran), pada abad ke 5 H / 11 M. di zaman sekarang, Ghaznah termasuk wilayah Afganistan. Pengarang Tadzkirul Awliya, Fariduddin Aththar, diduga banyak mengutip beberapa riwayat hidup para sufi dari kitab Kasyful Mahjub. Misalnya dalam bab II yang menyebut nama Al-Hujwiri. Tapi menurut pengamat dunia sufi, AJ. Arberry, banyak bagian kitab Tadzkirul Awliya merupakan kutipan dari kitab Kasyful Mahjub tanpa menyebutkan sumber. Meski begitu, sufi Persia, Nawab Jan Fishari Khan, menyebut al-Hujwiri sebagai “Juru Penerang” dalam salah satu puisinya.
Sementara menurut pengamat sufi yang lain, Annemarie Schimmel, Kasyful Mahjub termasuk satu di antara beberapa kitab yang sahih  dan terkenal, sebagai monumen Persia awal, dengan daya ungkap yang kuat. Schimmel justru mencatat sejumlah besar keterangan mengenai dunia sufi yang menarik dalam kitab ini.

Tidak Banyak yang Menulis


kashfulmahjubSeperti halnya banyak sufi besar, riwayat Al-Hujwiri tidak ada yang menulis. Kalaupun sekarang bisa dijumpai sekelumit biografinya hal itu tidak lebih berkat adanya beberapa catatan tentang sang pengarang dalam kitab Kasyful Mahjub. Dari sana pula diketahui bahwa Al-Hujwiri pernah berguru kepada Abul Abbas Al-Syaqani, kemudian Abu Fadhl Muhammad bin Hasan Al-Khuttali dan Abu Al-Qasim Al-Jurjani (W. 1059) serta Khwaja Al-Muzaffar Ahmad bin Hamdan. Terungkap pula ia pernah berjumpa dengan Imam Al-Qusyairi.
Masa kecil dan remajanya dihabiskan untuk menuntut ilmu, terutama di kota kelahirannya, Ghaznah. Untuk menuntut ilmu, ia melanjutkan perjalanannya ke berbagai kota, di Irak, Khurasan di Timur Tengah, Kurdistan dan Azarbaijan, Jurjan, Samarkand, Uskand, Marwi di Asia Tengah, hingga Lahore di India. Pengembaraannya berakhir setelah berkunjung untuk kedua kalinya ke Lahore, dan menetap selama kurang lebih empat tahun.

Ketika itulah ia merasa bertanggung jawab atas penegakan Syariat Islam dan meningkatkan pengetahuan kaum muslimin. Maka ia pun mengajar dan berdakwah, hingga dikenal sebagai seorang ulama yang berpengaruh. Ia termasuk sedikit dari para ulama yang pertama kali merintis dakwah Islam di India, khususnya di Lahore dan sekitarnya.
Ketika pasukan Hindu menyerang Lahore pada tahun 435 H, Al-Hujwiri termasuk di antara ribuan orang muslim yang ditawan. Tak lama kemudian pasukan muslim dari Ghaznah membebaskan para tawanan, dan Al-Hujwiri pun pindah ke Ghaznah lalu ke Khurasan. Tapi tak lama kemudian ia kembali lagi ke Lahore hingga wafat pada 1073 M / 465 H.

Wawasan yang Sangat Luas

Mengembara menuntut ilmu, dan bertemu dengan berbagai ulama dan intelektual, memberikan wawasan tersendiri dalam pemikiran Al-Hujwiri. Apalagi ia juga sangat rajin membaca berbagai literatur selama dalam pengembaraan, hingga wawasan pemikirannya sangat luas. Tidak keliru jika para ahli menyebut Al-Hujwiri sebagai salah seorang ulama besar dalam dunia tasawuf.
Ia juga dikenal sebagai seorang penulis yang tergolong produktif. Dalam bukunya Kasyful Mahjub, disebutkan beberapa karyanya yang berjumlah sepuluh buah, antara lain: Diwan Minhaj Al-Din (kajian aturan agama), karya ini menyajikan keterangan metode tasawuf, keterangan terperinci tentang para pengamal tarekat, serta biografi lengkapa Al-Hallaj.
Kemudian Asrar Al-Khiraq al-Mulawwanat (rahasia baju compang-camping) yang memuat pembahasan pakaian para sufi. Fana-U Baqa (kehancuran yang kekal), kitab Al-Bayan li Ahl al-Iyan (kitab penjelasan untuk ahli hakekat) yang berisi konsep penyatuan dengan Tuhan, Bahr al-Qulub (samudra hati), berisi kajian tentang masalah hati yang sangat lengkap, Al-Riayat al-Huquq Allah (menjaga hak-hak Allah) berisi tentang keesaan Allah SWT dan karya yang sangat populer, Al-Kasyful Mahjub (ungkapan yang tersembunyi)
Adapun dua buku yang isinya tentang keimanan dan ungkapan-ungkapan Al-Hallaj tidak di ketahui judulnya, bahkan mungkin belum sempat diberinya judul. Sebagian karangan Al-Hujwiri telah hilang pada masa hidup sang pengarang , selain Kasyful Mahjub, yang terjaga rapi di tangan murid-muridnya.
Menurut cerita murid-muridnya, pernah Al-Hujwiri menyesal meminjamkan dua buku karyanya kepada seseorang yang kemudian tidak mengembalikannya. Tetapi kedua karya tersebut kemudian muncul dan disebarkan kepada khalayak dengan nama pengarang yang telah diganti, yaitu nama si peminjam buku tersebut. Barangkali dari pengalaman itu Al-Hujwiri lantas berusaha menyelipkan namanya pada sejumlah bagian dalam karya-karyanya, yang bisa dilihat dalam kitab Kasyful Mahjub.
Kitab Kasyful Mahjub, di mata para pengamat mempunyai beberpa kelabihan. Diantaranya menguraikan dengan tajam dua belas aliran tasawuf yang berkembang pada saat itu. Mengungkapkan beberapa persoalan tasawuf yang sangat berat seperti Makrifat dan sebagainya. Tidak ketinggalan uraian yang sangat mendalam tentang beberapa aliran tasawuf sehingga mempermudah kita untuk mempelajarinya.
Ada beberpa pandangan tentang tasawuf. Dalam buku Kisah Perjalanan Hidup Para Tokoh Sufi karangan Ustad Labib Mz. Ditulis beberapa buah pemikirannya sebagai berikut:
  • Pertama, Ilmu-ilmu Tauhid, fikih, tasawuf, serta pengalaman spritual dalam satu kesatuan yang utuh, konsekwen dan sesuai dengan aturan syariat, adalah ajaran Islam yang benar.
  • Kedua, bagaimana pun tingginya seorang tokoh sufi, tetap saja mempunyai kewajiban agama seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat sesuai dengan aturan Al-Qur’an dan hadis. Ketiga, mazhab-mazhab tidak hanya ada dalam ilmu fikih, tetapi juga ada dalam ilmu tasawuf.
Sebagai salah seorang pengikut Ahlussunnah, Al-Hujwiri dikenal sebagai ulama yang berusaha mendamaikan Tasawuf , fikih dan teologi. Ia berulang kali mengingatkan. Tidak ada sufi, termasuk yang telah mencapai tingkat tinggi, bebas dari kewajiban syariat, atau mentaati hukum-hukum agama.
Ia menegaskan, ada keterkaitan erat antara syariat dan hakekat. Menurutnya syariat tanpa hakekat tidak membuahkan apa-apa. Sedangkan hakekat tanpa syariat, hanya membuahkan kemunafikan.. sebuah upaya dan semangat yang kemudian di teruskan oleh Imam Ghazali.
Al-Hujwiri membagi orang-orang tasawuf menjadi tiga golongan. Yaitu, Sufi, Mutasawwif, dan Mutashwif. Sufi adalah orang yang sudah fana (lenyap) dari dirinya, Baqa (abadi) bersama Al-Haq, bebas dari genggaman tabiat dan mencapai hakekat dari segala hakekat. Mutashawwif, adalah orang yang sedang berjuang keras untuk mencapai derajat sufi. Adapun Mutashwif adalah orang yang berpura-pura seperti sufi tetapi dengan kepentingan duniawi.
Sumber Kisah Alkisah Nomor 04 / 14-27 Feb 2005

Minggu, 16 Februari 2020

Kisah Sufi Ibnu Arobi


Bagi pendosa yang jahat, aku mungkin terlihat jahat. 
Tetapi bagi yang baik — betapa luhurnya aku.
Beliau adalah al imam Abu Abdillah Muhammad bin Ali Al Aroby Al-Hatimiy Al-Tha’i Al Andalusy.
Yang mendapat sebutan gelar Muhyiddin ibn ’Arabi (”Putra Arab Sang Penghidup Agama,” selanjutnya, dalam terjemahan ini, lbn Arabi).
Beliau (semoga Allah meridhainya) dilahirkan pada hari Senin, malam 17 Ramadhan, tahun 520H di Marsiyyah, (murcia)Andalusia.(Spanyol)  Pada usia 8 tahun beliau pindah ke Seville (sekarang wilayah Spanyol) bersama dengan orang tuanya, seraya belajar hadis dan fiqih kapada para guru di negerinya.
Pengembaraannya di kota-kota Andalusia dan negeri Maghrib mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk karakter tasawuf beliau kelak, ketika beliau menjadi syaikh dari para syaikh (syaikh al-masyayikh/ guru para guru) dan pemuka para imam lslam. Syaikh Ibn Arabi sangat mendalami jalan sufi dan tak saorang pun yang blsa menandinginya sehingga beliau pantas menjadi teladan yang mencerminkan akhlak-etika perkataan dan perbuatan para sufi.
Pada tahun 598H, beliau pergi ke Makkah untuk menunaikan lbadah haji dan tinggal di Hijaz selama 2 tahun. Setelah itu melanjutkan perjalanan ke Bagdad dan Mosul, lalu pindah ke kota Al-Khalil (Hebron, Palestina sekarang) dan tinggal di sana selama 1 tahun. Berikutnya beliau pindah ke Kairo dan tinggal di sana selama 3 tahun. Pada tahun 606 H beliau pergi ke Halb dan m0ndar-mandir antara Maghrib dan Masyriq selama 4 tahun. Beliau kembali ke Halb pada tahun 61o H dan tinggal di sana selama setahun penuh, kemudian kembali ke Makkah pada tahun 611 H.
Pada tahun 612 H beliau pergi ke Quniah dan Siwas, lalu kemball ke Halb tahun 617 H dan tinggal di sini selama 3 tahun. Setelah itu beliau kembali ke Damaskus pada tahun 620H dan tinggal di sana sampai tahun 628H. Beliau kembali lagi ke Halb, tinggal di sana selama setahun penuh lalu kembali lagi ke Damaskus pada tahun 629H dan tinggal di sana hingga wafatnya pada tahun 632H, pada usia 87 tahun.
Di kalangan ahli hakikat dan para wali beliau dikenal sebagai salah seorang wali Allah dan memperoleh banyak gelar, seperti khatam al- auliya’ (sang penutup para wali), barzakh al-barazikh (sang pemisah para pamisah), al-kibrit al-ahmar (sang belerang merah), dan sulthan al-’arifin (pemimpin para arif)
Syaikh Ibn Arabi memiliki banyak sekali karya hingga tak terhitung jumlahnya.
Salah satu karya beliau yang terpenting adalah Al-Futuhat Al- Makkiyah. Beliau juga menulis kitab tafsir dan ta’will dengan pendekatan bathini (makna batiniah), serta kitab-kitab lain yang berharga.
Salah satu pengaruh metafisis paling mendalam terhadap dunia Muslim maupun Kristen adalah ajaran Ibnu Arabi as-Sufi, dalam bahasa Arab disebut asy-Syekh al-Akbar (Mahaguru). 
Ia keturunan Hatim ath-Tha’i, yang masih termasyhur di kalangan bangsa Arab sebagai laki-laki paling dermawan yang pernah dikenal dalam sejarah dan di film kan
Spanyol telah menjadi negeri Arab selama lebih dari empat abad ketika Ibnu Arabi (dari) Murcia dilahirkan pada 1164. Diantara nama-namanya adalah al-Andalusi, dan tidak diragukan dia lah salah satu tokoh terbesar dari beberapa tokoh besar Spanyol yang pernah hidup. 
Secara umum diyakini bahwa tidak ada puisi cinta yang lebih besar dari karyanya; dan tidak ada seorang Sufi yang begitu mendalam menarik perhatian para teolog ortodoks dengan makna batin dari kehidupan dan karyanya.
Latar belakang Sufinya, menurut para ahli biografi, adalah bahwa ayahnya pernah berhubungan dengan Abdul Qadir al-Jilani yang agung,  (1077-1166). Ibnu Arabi sendiri disebutkan terlahir sebagai akibat pengaruh spiritual Abdul Qadir, yang meramalkan bahwa ia akan menjadi seorang dengan anugerah yang sangat luar biasa.
Ayahnya memastikan untuk memberikan pendidikan terbaik yang mungkin baginya, sesuatu yang diberikan bangsa Moor Spanyol pada waktu itu, hingga pada suatu tingkatan yang tidak tertandingi di mana saja. Ia pergi ke Lisabon, di mana ia belajar Fiqih dan Kalam. Berikutnya, ketika masih anak-anak, ia pergi ke Sevilla, di mana ia belajar al-Qur’an serta Hadis di bawah bimbingan para ulama terbesar pada masanya. Di Cordoba ia menghadiri kuliah-kuliah dari Syekh asy-Syarrat al-Kabir, dan mengkhususkan dirinya dalam jurisprudensi.
Selama periode ini, Ibnu Arabi memperlihatkan kualitas-kualitas intelek jauh melebihi mereka yang sezamannya, meskipun mereka berasal dari elite skolastik dimana dalam keluarga-keluarga semacam ini kapasitas intelektual sangatlah masyhur pada zaman pertengahan. Selama masa remajanya, di luar disiplin ketat pada sekolah-sekolah akademik tersebut, ia habiskan semua waktu dengan para Sufi, dan mulai menulis puisi.
Ia tinggal di Sevilla selama tiga dekade, puisi dan kefasihan bahasanya menempatkannya pada posisi puncak di atmosfir Spanyol yang berperadaban tinggi, begitu juga di Maroko, yang juga merupakan pusat kehidupan kebudayaan.
Dalam beberapa hal Ibnu Arabi menyerupai al-Ghazali (1058-1111). Seperti al-Ghazali, ia berasal dari sebuah keluarga Sufi, dan berpengaruh terhadap dunia Barat. Juga seperti al-Ghazali, ia sangat menguasai ajaran (ortodoks) Islam. 
Tetapi jika al-Ghazali pertama kali menguasai skolastisisme Islam, kemudian setelah merasa tidak cukup, ia berpaling ke Sufisme pada puncak kebesarannya; sementara Ibnu Arabi, melalui hubungan dan puisi, mempertahankan suatu hubungan berkelanjutan dengan arus Sufistik. Al-Ghazali mendamaikan Sufisme dengan Islam, menjadikan orang-orang skolastik memahami bahwa Sufisme bukan suatu bid’ah, tetapi suatu makna batin agama. Misi Ibnu Arabi adalah untuk menciptakan kesusastraan Sufi dan menyebabkannya dipelajari, hal mana masyarakat mungkin bisa memasuki semangat Sufisme — menemukan para Sufi melalui keberadaan dan ungkapannya, apa pun latar belakang budayanya.
Kitab karya Ibnu Arabi, Tarjuman al-Asywaq (Penterjemah Kerinduan):
Adalah benar bahwa sebagian puisi itu tidak bisa dibedakan dari kidung cinta biasa, dan ketika melihat sebagian besar dari teks itu, sikap dari orang-orang sezaman dengan penulisnya, yang menolak untuk mempercayai bahwa karya ini memiliki suatu pandangan esoterik, adalah wajar dan bisa dipahami. 
Di sisi lain ada banyak bagian yang sepenuhnya bersifat mistis dan memberikan kunci pemahaman untuk bagian lainnya. Jika orang-orang yang skeptis kurang memiliki kemampuan membedakan, mereka layak memperoleh rasa terima kasih kita karena mendorong Ibnu Arabi untuk mengajari mereka. Tentu saja tanpa bimbingannya, semua pembaca yang simpatik sulit menemukan makna tersembunyi dimana kemurnian dan keindahannya yang fantastik berasal dari sebuah lagu (qasidah) Arab.
Banyak sekali peninggalan tulisan-tulisan Ibnu Arabi yang sampai saat ini dikaji sekaligus diperdebatkan, dibanding para Sufi lainnya.
Sebagian tulisan Ibnu Arabi ditujukan kepada mereka yang telah memahami mitologi kuno dan disusun dengan istilah-istilah tersebut. Sebagian yang berhubungan dengan dunia Kristen berperan sebagai pembuka jalan bagi orang-orang yang mempunyai komitmen kepada Kristen. 
Puisi lainnya berperan memperkenalkan jalan Sufi melalui wahana puisi cinta. Tidak seorang pun bisa menjelaskan semua karyanya hanya melalui makna skolastik, keagamaan, romantik dan perlengkapan intelektual. Hal ini membawa kita pada isyarat lain dari misinya yang terkandung dalam namanya.
Menurut tradisi Sufi, misi Ibnu Arabi adalah “menyebarkan” (bahasa Arabnya adalah nasyr, NSYR) ajaran Sufi melalui pandangan kontemporer dan berhubungan dengan berbagai tradisi hidup dalam masyarakat. Pandangan tentang penyebaran ini tentu saja absah dan sesuai dengan pemikiran Sufi. Karena istilah Sufi untuk kata penyebaran (NSYR) pada waktu itu tidak dipergunakan secara umum, Ibnu Arabi menggunakan sebuah alternatif. 
Di Spanyol ia dikenal sebagai Ibnu Saraqa, “anak gergaji”. Akan tetapi Saraqa dengan akar kata SRQ merupakan kata lain dari gergaji yang diambil dari akar kata NSYR. Akar kata NSYR jika diubah secara normal bermakna “penerbitan, penyebaran”, dan juga bermakna “menggergaji”. Kata ini juga bermakna menghidupkan. Nama pribadi Ibnu Arabi, Muhyiddin, diterjemahkan dengan “Yang Menghidupkan Agama.”
Dengan mengambil akar kata NSYR secara literal, seperti hampir semua sarjana melakukannya, bahkan menyebabkan seorang sejarawan yang terhormat semacam Ibnu al-Abbar menyimpulkan bahwa ayahnya adalah seorang tukang kayu. Ia hanya bisa dikatakan sebagai “tukang kayu” dalam pengertian kedua sebagaimana dikenal oleh para Sufi yang menggunakan istilah untuk pertemuan mereka, dalam menjelaskan jamaah mereka di suatu tempat bagi sejumlah orang yang tidak ingin terlihat sebagai kelompok penentang.
Sebagian pernyataan Ibnu Arabi yang diambil dari karya-karyanya sendiri sangat mengejutkan. Dalam kitab Fushushul-Hikam, ia mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah dilihat dalam suatu bentuk material. “Pandangan tentang Tuhan dalam perempuan adalah pandangan paling sempurna”. Bagi Sufi, puisi cinta sebagaimana puisi lainnya, mampu memantulkan suatu pengalaman ketuhanan yang utuh dan koheren seraya memenuhi fungsi-fungsi lainnya. Setiap pengalaman Sufi merupakan suatu pengalaman mendalam dan mengandung ketidakterbatasan kualitatif. Bagi orang awam, satu kata hanya memiliki satu makna, atau satu pengalaman tidak memiliki sejumlah arti penting yang sama-sama valid. Keberagaman wujud merupakan sesuatu yang, meskipun ditolak oleh kalangan non-Sufi, seringkali dilupakan oleh mereka ketika membahas materi Sufi. Paling jauh mereka biasanya hanya dapat memahami bahwa ada sebuah alegori bagi mereka hanya memiliki satu makna.
Kepada para teolog yang membatasi diri pada formalisme ketuhanan, Ibnu Arabi secara terang-terangan mengatakan bahwa, “Malaikat sebenarnya merupakan kekuatan-kekuatan tersembunyi dalam fakultas-fakultas dan organ-organ manusia.” Tujuan Sufi adalah menghidupkan organ-organ ini.
Tanpa mempertimbangkan perbedaan antara formulasi dan pengalaman, Dan telah mengambil alih karya sastra Ibnu Arabi dan mengkristalkannya dalam suatu kerangka kerja yang mungkin sedang berlaku. Untuk melakukan hal itu, ia telah mencuri pesan Ibnu Arabi dari validitas Sufinya dan benar-benar mengabaikan Profesor Asing dengan suatu contoh abadi dari apa yang oleh pikiran modern hampir berpuncak pada perampasan gagasan. 
Sebaliknya, Raymond Lully mengambil alih bahan kesusastraan Ibnu Arabi, namun disamping itu menekankan arti penting latihan-latihan Sufi yang diperlukan untuk menyempumakan pengalaman Sufistik.
Ibnu Arabi yang belajar di bawah bimbingan perempuan Sufi Spanyol, Fatimah binti Waliyya, tidak diragukan bahwa ia cenderung pada keadaan-keadaan fisik tertentu; yang hal ini juga digunakan oleh para Sufi. Ia merujuk hal ini di berbagai kesempatan. Sebagian karyanya ditulis dalam keadaan “mabuk” (trance), dan maknanya tidak jelas baginya sampai setelah beberapa saat penulisannya. 
Ketika berumur tiga puluh tujuh tahun, ia mengunjungi Ceuta, di mana ia memperbaharui madzhab Ibnu Sabain (penasehat Kaisar Roma, Frederick). Di sana ia mengalami mimpi aneh yang ditakwilkan oleh seorang ulama masyhur. Orang alim itu mengatakan, “Tidak bisa diukur … jika orang itu ada di Ceuta, ia tidak lain adalah anak muda Spanyol yang baru datang.”
Sumber inspirasinya adalah mimpi dimana kesadarannya masih aktif Dengan melatih fakultas Sufi ini, ia mampu menghasilkan suatu hubungan dengan realitas terakhir (supermatif) dari akal batinnya — realitas yang dijelaskannya mendasari penampakan dunia biasa.
Ajarannya menekankan arti penting pelatihan fakultas-fakultas ini yang tidak diketahui oleh semua orang dan oleh banyak orang telah diserahkan pada okultisme yang konyol. “Seseorang,” tuturnya, “harus mengendalikan pikiran-pikirannya dalam mimpi. Dengan melatih kesigapan ini, ia akan menghasilkan kesadaran tentang dimensi perantara. Kesadaran ini akan mendatangkan manfaat besar bagi individu itu. Setiap orang seharusnya melatih diri untuk mencapai kemampuan yang sangat besar nilainya itu.
Tidak akan ada gunanya untuk mencoba menafsirkan Ibnu Arabi dari satu pandangan yang pasti. Ajaran-ajarannya diambil dari pengalaman-pengalaman batin, kemudian disajikan dalam suatu bentuk yang mempunyai suatu fungsi. Jika puisinya mempunyai makna ganda dan sering demikian, ia bukan saja bertujuan menyampaikan kedua makna itu, tetapi juga menegaskan bahwa keduanya adalah valid. Jika puisi ini dinyatakan dalam istilah-istilah yang digunakan oleh orang-orang sebelumnya, hal ini tidak dimaksudkan harus dipahami sebagai bukti pengaruh luar. Apa yang diperbuatnya dalam hal ini adalah ditujukan kepada dirinya sendiri untuk orang-orang dalam istilah yang membentuk sebagian latar belakang budaya mereka sendiri.
Ada puisi-puisi Ibnu Arabi yang bisa dibaca dalam pengertian yang berubah-ubah — maknanya bermula dalam suatu tema dan kemudian berubah ke tema lainnya. Ia melakukan hal ini secara sengaja, dengan tujuan untuk mencegah proses asosiasi otomatis yang akan membawa pembaca ke dalam kenikmatan biasa, sebab Ibnu Arabi adalah seorang guru, bukan seorang penghibur.
Bagi Ibnu Arabi, sebagaimana bagi semua Sufi, Muhammad mewakili Insan Kamil. Pada saat yang sama, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud “Muhammad” dalam konteks ini. Dalam persoalan ini Ibnu Arabi lebih tegas dibandingkan persoalan lainnya. Ada dua versi maksud kata Muhammad — sosok manusia yang hidup di Mekkah dan Madinah serta Muhammad yang hidup abadi. Muhammad yang terakhir inilah yang dibicarakannya. Muhammad dalam pengertian kedua ini diidentifikasikan dengan semua Nabi, termasuk Yesus. Gagasan ini menyebabkan klaim di kalangan Kristen bahwa Ibnu Arabi atau para Sufi atau keduanya adalah orang-orang Kristen rahasia. 
Klaim Sufi adalah bahwa individu-individu yang telah melaksanakan fungsi-fungsi tertentu pada dasarnya adalah satu. Kesatuan ini mereka sebut dengan asal-usulnya sebagai Haqiqatul-Muhammadiyyah.
Ketik dilihat dalam bentuk lain, maka ia disebut dengan nama bentuk itu sendiri.”
Ini bukan suatu teori reinkarnasi, meskipun teori ini sangat mirip. Realitas esensial yang menghidupkan manusia dengan sosok Muhammad atau lainnya ini harus diberi nama sesuai dengan lingkungannya. Mereka yang menggunakan sikap ini dengan doktrin Logos dari Plotinus, menurut para Sufi, berarti menisbatkan suatu hubungan historis pada suatu situasi yang mempunyai realitas obyektif para Sufi tidak meniru doktrin Logos, meskipun ide tentang Logos dan Hakikat Muhammadiyah mempunyai sumber yang sama. 
Pada akhirnya, sumber informasi Sufi dalam persoalan ini adalah pengalaman pribadi Sufi, bukan formulasi kepustakaan sebagai salah satu manifestasi historisnya. Perangkap pemikiran historis, yang beranggapan bahwa tidak ada sumber batiniah pengetahuan yang mendasar dan harus mencari inspirasi kepustakaan dan superfisial, tetap dihindari oleh para Sufi. Beberapa mahasiswa Barat yang mengkaji Sufisme, hal ini harus diakui, telah menekankan kemiripan lahiriah, sementara terminologi atau waktu tidak membuktikan penyampaian gagasan esensial itu.
Ibnu Arabi telah membingungkan para sarjana, sebab ia adalah orang yang dalam Islam disebut sebagai seorang konformis dalam agama, sementara ia tetap seorang esoteris. Seperti semua Sufi, ia mengklaim bahwa ada suatu kemajuan koheren, sinambung dan sepenuhnya bisa diterima oleh setiap agama formal, dan pemahaman batin dari agama itu yang akan membawa pada pencerahan pribadi. 
Biasanya doktrin ini tidak bisa diterima oleh para teolog (mutakallimun) dengan kepentingannya yang bergantung pada banyak atau tidaknya fakta-fakta statis, bahan sejarah dan kekuatan penalaran.
Meskipun Ibnu Arabi dicintai oleh semua Sufi, mempunyai banyak pengikut pribadi dan menjalankan fungsi teladan kehidupan, tidak diragukan ia merupakan suatu ancaman bagi kalangan formalis. 
Seperti al-Ghazali, kekuatan intelektualnya lebih unggul dari semua orang sezamannya yang lebih konvensional (di bidang pemikiran). Alih-alih menggunakan berbagai kemampuan ini untuk mengukir satu tempat dalam skolastisisme, ia menyatakan — seperti banyak Sufi lainnya — bahwa jika seseorang memiliki intelek yang kuat, fungsi terakhirnya adalah memperlihatkan bahwa intelektualitas hanyalah suatu sarana pengantar kepada sesuatu yang lain. 
Sikap ini bukan suatu kesombongan — apalagi kalau kita benar-benar bertemu dengan orang semacam ini dan mengetahui kerendahan hatinya.
Banyak orang bersimpati kepadanya, tetapi tidak berani mendukungnya, sebab mereka bekerja pada tataran formal (syari'at) sementara ia bekerja pada tataran rahasia (halikat). 
Seorang alim yang terhormat menurut riwayat mengatakan, “Aku sama sekali tidak meragukan bahwa Muhyiddin (Ibnu Arabi) adalah seorang pembohong besar. Ia adalah pemuka kalangan ahli bid’ah dan seorang Sufi yang tidak tahu malu.” Akan tetapi seorang teolog besar, 
Kamaluddin Zamlaqani menegaskan, “Betapa bodohnya mereka yang menentang Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi! 
Pernyataannya yang sublim dan tulisannya yang bernilai itu terlalu tinggi bagi pemahaman mereka.”
Dalam sebuah kesempatan yang masyhur, guru pembaharu Syekh Izuddin ibnu Abdussalam sedang memimpin sekelompok murid mempelajari fiqih. Selama berlangsung suatu diskusi, pertanyaan tentang definisi bid’ah muncul. Seorang murid menyebut Ibnu Arabi sebagai contoh utama. 
Sang guru tidak menyanggah penegasan ini. Kemudian ketika makan malam dengan guru ini, Salahuddin yang pada masa selanjutnya menjadi Syekh al-Islam, bertanya kepadanya, siapakah alim paling terkemuka pada masanya:Ia menjawab, ‘Menurut Anda siapa? Teruslah makan.’ Aku menyadari bahwa ia tahu. 
Aku berhenti makan dan menekannya untuk menjawab pertanyaanku dengan menyebut nama Allah. Ia tersenyum dan berkata, ‘Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi.’ Untuk sesaat aku terkejut sehingga tidak bisa berkata-kata. Syekh itu bertanya kepadaku tentang keadaanku saat itu. Kujawab, ‘Aku heran, sebab pada pagi ini seseorang mengatakan bahwa ia adalah ahli bid’ah. 
Pada saat itu, Anda justru tidak menyanggahnya. Sekarang Anda menyebut Muhyiddin sebagai Wali al-Quthb di Zaman Ini, manusia teragung yang pernah hidup, guru dunia’.”
“Ia mengatakan, ‘Kala itu aku berada di tengah-tengah pertemuan para ulama, para fuqaha’.”
Penentangan utama terhadap Ibnu Arabi disebabkan koleksi karya puisinya yang sangat mengagumkan dan mengejutkan — puisi Cinta yang dikenal sebagai Penterjemah Kerinduan (Tarjuman al-Asywaq). Puisi ini sangat sublim, mengandung begitu banyak kemungkinan makna dan penuh dengan khayalan fantastik, sehingga ia bisa menimbulkan pengaruh magis bagi pembacanya. Bagi para Sufi, karya ini dipandang sebagai produk perkembangan paling jauh dari kesadaran kemanusiaan. 
Ibnu Arabi itu sebagai “suatu paduan aneh antara teosofi dan paradoks-paradoks metafisik. Semuanya lebih menyerupai teosofi pada masa kita sekarang.”
Bagi para sarjana, salah satu hal penting dalam kitab Tarjuman al-Asywaq adalah masih adanya komentar tentang puisi-puisi itu yang dibuat oleh penulisnya sendiri; di dalamnya ia menjelaskan bagaimana metafora disesuaikan dengan agama Islam ortodoks. Hal ini hanya bisa dikaji dengan menghadapkan latar belakang sejarah kitab tersebut.
Pada tahun 1202, Ibnu Arabi memutuskan untuk pergi Haji. Setelah menghabiskan beberapa waktu perjalanannya melalui Afrika Utara, tibalah ia di Mekkah. Di sana bertemu dengan sekelompok imigran Persia, para mistikus (Sufi?) yang menyambut dan menerimanya memasuki kelompok tersebut, meskipun ia dituduh melakukan bid’ah dan keburukan di Mesir. Ia nyaris terbunuh pada percobaan pembunuhan oleh seorang fanatik.
Ketua komunitas Persia itu bernama Mukinuddin. Ia memiliki seorang putri yang cantik, Nizam, salehah dan menguasai fiqih. Berbagai pengalaman spiritualnya di Mekkah dan pernyataan simbolisnya tentang jalan mistik, diungkapkan dalam puisi-puisi cinta yang dipersembahkan kepada Nizam. Ibnu Arabi menyadari bahwa kecantikan manusia berkaitan dengan realitas ketuhanan. Karena itulah ia mampu menghasilkan puisi-puisi yang mengagumi kesempurnaan gadis itu dan juga sekaligus, dalam perspektif yang benar, menggambarkan suatu realitas yang lebih dalam. Tetapi kemampuan untuk melihat hubungan itu ditolak oleh para agamawan formal yang memandangnya sebagai skandal.
Para pendukung Ibnu Arabi memperlihatkan, seringkali dengan rahasia, bahwa kebenaran sejati mungkin dinyatakan dengan berbagai cara sekaligus. Mereka merujuk pada cara Ibnu Arabi dalam mengangkat mitos dan legenda maupun sejarah tradisional, untuk mengungkapkan kebenaran-kebenaran esoteris yang tersembunyi di dalamnya, demikian pula nilai kesenangannya. Konsep keberagaman makna dari suatu faktor dan yang sama ini kurang dipahami pada masanya maupun saat ini. Pemahaman terdekat dari orang awam yang bisa diperoleh dari hal ini adalah pengakuan bahwa “seorang cantik adalah karya seni Ilahi”. Ia tidak mampu memahami perempuan cantik dan ketuhanan dalam waktu yang bersamaan. Hal ini adalah problema umum dari pernyataan Sufi dalam suatu pilihan kata-kata yang sangat terbatas.
Oleh karena itu, kitab Tarjuman al-Asywaq karya Ibnu Arabi itu terkesan sebagai sebuah kumpulan puisi erotik. Ketika ia pergi ke Aleppo di Syria, sebuah pusat ortodoksi keagamaan, ia mendapati bahwa para ulama (ortodoks) Islam yang mengatakannya sebagai pembohong semata, berupaya membenarkan puisi erotiknya dengan mengklaim suatu makna yang lebih dalam. Tiba-tiba ia mulai membuat sebuah komentar untuk membawa karya tersebut ke dalam pandangan ortodoks. 
Hasilnya para ulama itu benar-benar merasa puas, sebab penulisnya telah berperan dalam mendukung penafsiran mereka sendiri tentang hukum keagamaan dengan menjelaskan makna-makna dalam karyanya itu. Meskipun demikian, bagi Sufi, ada makna ketiga dalam kitab itu. Dengan menggunakan terminologi yang lazim, Ibnu Arabi sedang memperlihatkan kepada mereka bahwa berbagai superfisialitas itu bisa jadi benar, bahwa cinta manusia bisa jadi sepenuhnya absah; namun aktualitas kedua hal ini telah menutupi suatu kebenaran batin, atau perluasan maknanya.
Realitas batin inilah yang dirujuknya ketika ia menerima semua formalisme, meski demikian menyatakan suatu kebenaran di balik dan di luarnya. 
Mungkin ini salah satu puisi yang paling mengejutkan kalangan agamawan yang saleh dan meyakini bahwa kepercayaan mereka merupakan jalan bagi penyelamatan manusia:
Hatiku bisa menjelma berbagai bentuk:
Sebuah biara bagi pendeta, dupa untuk berhala,
Sebuah padang rumput bagi rusa-rusa.
Aku lah Ka’bah bagi orang-orang yang shalat,
Lembaran-lembaran Taurat dan al-Qur’an.
Cinta adalah agama yang kupegang: ke mana pun.
Kendaraan dalam melangkah, Cinta tetap agama dan keyakinanku.
Orang yang berpikiran romantis mungkin memahaminya dengan makna yang biasa dikenal, jenis cinta kuantitatif yang secara otomatis oleh pikirannya dikaitkan dengan kata-kata, “Itulah yang dimaksud Ibnu Arabi.” Bagi Sufi yang biasa menggunakan tema “cinta”, Sufisme hanyalah satu bagian, terbatas, dimana di baliknya, di bawah keadaan-keadaan biasa, tidak pernah dirambah oleh manusia sekarang.

Kamis, 05 Mei 2016

Orang yang Berjalan di Atas Air

Seorang darwis yang berpegang kepada kaidah, yang berasal dari mazhab yang saleh, pada suatu hari berjalan menyusur tepi sungai. Ia memusatkan perhatian pada berbagai masalah moral dan ajaran, sebab itulah yang menjadi pokok perhatian pengajaran Sufi dalam mazhabnya. Ia menyamakan agama, perasaan, dengan pencarian kebenaran mutlak. Tiba-tiba renungannya terganggu oleh teriakan keras: Seseorang terdengar mengulang-ulang suatu ungkapan darwis. Tak ada gunanya itu, katanya kepada diri sendiri. Sebab orang itu telah salah mengucapkannya. Seharusnya diucapkannya yâ hû, tapi ia mengucapkannya u yâ hû. Kemudian ia menyadari bahwa sebagai darwis yang lebih teliti, ia mempunyai kewajiban untuk meluruskan ucapan orang itu. Mungkin orang itu tidak pernah mempunyai kesempatan mendapat bimbingan yang baik, dan karenanya telah berbuat sebaik-baiknya untuk menyesuaikan diri dengan gagasan yang ada di balik suara yang diucapkannya itu.
Demikianlah darwis yang pertama itu menyewa perahu dan pergi ke pulau di tengah-tengah arus sungai, tempat asal suara yang didengarnya tadi. Didapatinya orang itu duduk di sebuah gubuk alang-alang, bergerak-gerak sangat sukar teratur mengikuti ungkapan yang diucapkannya itu. Sahabat, kata darwis pertama, Anda keliru mengucapkan ungkapan itu. Saya berkewajiban memberitahukan hal ini kepada Anda, sebab ada pahala bagi orang yang memberi dan menerima nasihat. Inilah ucapan yang benar. Lalu ia memberitahukannya ucapan itu. Terimakasih, kata darwis yang lain itu dengan rendah hati.
Darwis pertama turun ke perahunya lagi, sangat puas, sebab baru saja berbuat amal. Bagaimana pun kalau orang boleh mengulang-ulang ungkapan rahasia itu dengan benar, ada kemungkinan boleh berjalan di atas air. Hal itu memang belum pernah disaksikannya sendiri, tetapi berdasarkan alasan tertentu- darwis pertama itu ingin sekali boleh melakukannya. Kini ia tak mendengar lagi suara gubuk alang-alang itu, tapi ia yakin bahwa nasihatnya telah dilaksanakan sebaik-baiknya.
Kemudian didengarnya lagi ucapan u yâ hû yang keliru itu ketika darwis yang di pulau tersebut mulai mengulang-ulang ucapannya…. Ketika darwis pertama merenungkan hal itu, memikirkan betapa manusia memang suka bersikeras mempertahankan kekeliruan, tiba-tiba disaksikannya pemandangan yang menakjubkan. Dari arah pulau itu, darwis kedua tadi tampak menuju perahunya, berjalan di atas air….
Karena takjubnya, ia pun berhenti mendayung. Darwis kedua pun mendekatinya, katanya, Saudara, maaf saya mengganggu Anda. Saya datang untuk menanyakan cara yang benar untuk mengucapkan ungkapan yang Anda beritahukan kepada saya tadi; sulit benar rasanya mengingat-ingatnya

Keperluan yang Makin Mendesak

Pada suatu malam, seorang penguasa tiran di Turkistan sedang mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh seorang darwis. Tiba-tiba bertanya tentang Nabi Khidir. Khidir, kata darwis itu, datang kalau diperlukan. Tangkap dan jubahkan ia kalau ia muncul, dan segala pengetahuan menjadi milik paduka. Apakah itu boleh terjadi pada siapa pun? Siapa pun boleh, kata darwis itu. Siapa pula lebih boleh dariku? fikir sang Raja; dan ia pun mengedarkan pengumuman: Barangsiapa boleh menghadirkan Khidir yang gaib, akan kujadikan orang kaya.
Seorang lelaki miskin dan buta bernama Bakhtiar Baba, setelah mendengar pengumuman itu menyusun akal. Ia berkata kepada istrinya, Aku punya rencana. Kita akan segera kaya, tetapi beberapa lama kemudian aku harus mati. Namun, hal itu tidak mengapa, sebab kekayaan kita itu boleh menghidupimu selamanya. Kemudian Bakhtiar menghadap Raja dan mengatakan bahwa ia akan mencari Khidir dalam waktu empat puluh hari, kalau Raja bersedia memberinya seribu keping emas. Kalau kau boleh menemukan Khidir, kata Raja, kau akan mendapat sepuluh kali seribu keping wang emas ini. Kalau gagal, kau akan mati, dipancung di tempat ini sebagai peringatan kepada siapa pun yang akan mencoba mempermainkan rajanya. Bakhtiar menerima syarat itu. Ia pun pulang dan memberikan wang itu kepada istrinya, sebagi jaminan hari tuanya. Sisa hidupnya yang tinggal empat puluh hari itu dipergunakannya untuk merenung, mempersiapkan diri memasuki kehidupan lain.
Pada hari keempat puluh ia menghadap Raja. Yang Mulia, katanya, kerakusanmu telah menyebabkan kau berfikir bahwa wang akan boleh mendatangkan Khidir. Tetapi Khidir, kata orang, tidak akan muncul oleh panggilan yang berdasarkan kerakusan. Sang Raja sangat marah, Orang celaka, kau telah mengorbankan nyawamu; siapa pula kau ini berani mencampuri keinginan seorang raja? Bakhtiar berkata, Menurut dongeng, semua orang boleh bertemu Khidir, tetapi pertemuan itu hanya akan ada manfaatnya apabila maksud orang itu benar. Mereka bilang, Khidir akan menemui orang selama ia boleh memanfaatkan saat kunjungannya itu. Itulah hal yang kita tidak menguasainya.
Cukup ocehan itu, kata sang Raja, sebab tak akan memperpanjang hidupmu. Hanya tinggal meminta para menteri yang berkumpul di sini agar memberikan nasihatnya tentang cara yang terbaik untuk menghukummu. Ia menoleh ke Menteri Pertama dan bertanya, Bagaimana cara orang itu mati? Menteri Pertama menjawab, Panggang dia hidup-hidup sebagai peringatan. Menteri Kedua, yang berbicara sesuai urutannya, berkata, Potong-potong tubuhnya, pisah-pisahkan anggota badannya. Menteri Ketiga berkata, Sediakan kebutuhan hidup orang itu agar ia tidak lagi mau menipu demi kelangsungan hidup keluarganya.
Sementara pembicaraan itu berlangsung, seseorang yang bijaksana yang sudah sangat tua memasuki rwang pertemuan. Ia berkata, Setiap orang mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi di dalam dirinya. Apa maksudmu, tanya Raja. Maksudku, Menteri Pertama itu aslinya Tukang Roti, jadi ia berbicara tentang panggang memanggang. Menteri Kedua, dulunya Tukang Daging, jadi ia berbicara tentang potong memotong daging. Menteri Ketiga, yang telah mempelajari ilmu kenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini. Catat dua hal ini, pertama, Khidir muncul melayani setiap orang sesuai kemampuan orang itu untuk memanfaatkan kedatangannya. Kedua, Bakhtiar, orang ini yang kuberi nama Baba (Bapak dalam bahasa Parsi, -red.) karena pengorbanannya- telah didesak oleh keputusasaannya untuk melakukan tindakan tersebut. Keperluannya semakin mendesak sehingga aku pun muncul di depanmu.
Ketika orang-orang itu memperhatikannya, orang tua yang bijaksana itu pun lenyap begitu saja. Sesuai yang diperintahkan Khidir. Raja memberikan belanja teratur kepada Bakhtiar. Menteri Pertama dan Kedua dipecat, dan seribu keping wang emas itu dikembalikan ke kas kerajaan oleh Bakhtiar dan istrinya.
(Catatan: Konon, Bakhtiar Baba adalah seorang sufi bijaksana, yang hidupnya sangat sederhana dan tak dikenal orang di Khurasan, sampai peristiwa yang ada dalam kisah itu terjadi. Kisah ini, dikatakan juga terjadi pada sejumlah besar syekh sufi lain dan menggambarkan pengertian tentang terjalinnya keinginan manusia dengan makhluk lain. Khidir merupakan penghubung antara keduanya. Judul ini diambil dari sebuah sajak terkenal karya Jalaluddin Rumi: Peralatan baru bagi pemahaman akan ada apabila keperluan menuntutnya/ Karenanya, wahai manusia, jadikan keperluanmu makin mendesak, sehingga engkau boleh mendesakkan pemahamanmu lebih peka lagi).